Kamang Hilia, Agam, CNN Indonesia.id – Nagari Kamang Hilia kembali menorehkan sejarah penting dalam perjalanan adat Minangkabau melalui pelaksanaan ;
Alek Batagak Pangulu Nagari Kamang Hilia Tahun 2026.
Kegiatan adat yang berlangsung selama tiga hari, mulai tanggal 13 hingga 15 Juni 2026 ini dipusatkan di Balai Kerapatan Adat Nagari (BKAN) Kamang Hilia dan diikuti oleh seluruh unsur masyarakat, ninik mamak, alim ulama, cadiak pandai, bundo kanduang, perantau, serta tamu undangan dari berbagai daerah.
Pada alek gadang tahun ini, sebanyak 43 orang pangulu resmi diangkat dari empat pasukuan yang ada di Nagari Kamang Hilia, yaitu : Pasukuan Koto, Pasukuan Sikumbang, Pasukuan Jambak, dan Pasukuan IV Ibu.
Pengangkatan para pangulu tersebut menjadi simbol keberlanjutan kepemimpinan adat sekaligus bentuk pelestarian warisan budaya Minangkabau yang tetap hidup dan berkembang di tengah masyarakat.
Alek Batagak Pangulu 2026 mengusung falsafah ; Mambangkik Batang Tarandam, Nan Jauah Jadi Dakek, Nan Dakek Jadi Tambah Rapek.
Falsafah tersebut mengandung makna membangkitkan kembali nilai-nilai adat yang pernah terpendam, mempererat hubungan persaudaraan yang renggang, serta semakin menguatkan ikatan kebersamaan yang telah terjalin di tengah masyarakat.
Rangkaian kegiatan diawali pada hari pertama, Sabtu (13/6), dengan prosesi Mambantai Kabau yang menjadi salah satu tradisi penting dalam alek batagak pangulu.
Prosesi ini melambangkan semangat gotong royong, kebersamaan, dan pengorbanan dalam menjalankan amanah adat.
Setelah itu, dilaksanakan Penegakan Marawa Kebesaran Pangulu sebagai tanda dimulainya secara resmi rangkaian alek adat. Pada malam harinya, masyarakat berkumpul dalam tradisi Makan Paruik Lauak yang menjadi sarana memperkuat silaturahmi dan kebersamaan antarwarga.
Memasuki hari kedua, Minggu (14/6), kegiatan dilanjutkan dengan prosesi Maantaan Adat di Medan Nan Bapaneh.
Pada prosesi ini, berbagai petatah-petitih, nilai adat, serta pesan-pesan kepemimpinan disampaikan kepada para calon pangulu sebagai bekal dalam menjalankan tugasnya sebagai pemimpin kaum.
Selanjutnya, pada siang hari dilaksanakan Malewakan Gala di Medan Ban Balinduang
Proses ini merupakan pengumuman dan penetapan gelar adat yang akan disandang oleh para pangulu yang diangkat.
Puncak kegiatan berlangsung pada hari ketiga, Senin (15/6), dengan prosesi Ppengukuhan Ninik Mamak yang Baru Diangkat.
Dalam suasana khidmat dan penuh kebanggaan, para pangulu menerima amanah adat yang ditandai dengan Ppenyelipan Keris oleh Bupati Agam.
Prosesi tersebut menjadi simbol resmi bahwa para pangulu telah sah memegang tanggung jawab sebagai pemimpin adat yang berkewajiban menjaga marwah kaum, membimbing anak kemenakan, serta mempertahankan nilai-nilai adat yang diwariskan oleh para leluhur.
Pelaksanaan Alek Batagak Pangulu Nagari Kamang Hilia 2026 tidak hanya menjadi agenda adat semata, tetapi juga menjadi momentum memperkuat persatuan masyarakat.
Kehadiran para perantau yang pulang kampung serta partisipasi aktif seluruh lapisan masyarakat menunjukkan bahwa adat masih menjadi perekat yang kuat dalam kehidupan masyarakat Kamang Hilia.
Melalui pengangkatan 43 pangulu baru ini, diharapkan lahir para pemimpin adat yang mampu menjalankan amanah dengan bijaksana, menjaga persatuan kaum, serta menjadi teladan bagi generasi muda.
Semangat Mambangkik Batang Tarandam, Nan Jauah Jadi Dakek, Nan Dakek Jadi Tambah Rapek diharapkan terus menjadi landasan dalam membangun Nagari Kamang Hilia yang beradat, bersatu, dan bermartabat.
Penulis Hafis-Ben
Pewarta UM
















