Malalak Selatan, Agam. CNN INDONESIA.ID — Semarak peringatan Maulid Nabi Besar Muhammad SAW kembali terasa di tengah masyarakat Nagari Malalak Selatan, Kecamatan Malalak, Kabupaten Agam, Sumatera Barat. Salah satu tradisi yang hingga kini masih dipertahankan masyarakat adalah pembacaan Badzikie atau Syarafal 6, yang dilanjutkan dengan doa bersama serta tradisi makan bajamba.
Kegiatan tersebut dilaksanakan pada Senin malam di Masjid Nurul Huda, Balai Satu Paladangan, Nagari Malalak Selatan. Tradisi keagamaan yang telah berlangsung secara turun-temurun itu menjadi momentum bagi masyarakat untuk mempererat silaturahmi sekaligus mengenang kelahiran Nabi Muhammad SAW.
Dalam kegiatan tersebut, masyarakat menghadirkan para urang siak untuk membacakan Badzikie (Syarafal 6). Pembacaan dilakukan dengan irama khas yang merdu dan penuh kekhidmatan, sehingga suasana peringatan Maulid Nabi semakin terasa sakral.
Usai pembacaan Badzikie, kegiatan dilanjutkan dengan doa bersama. Masyarakat kemudian menyuguhkan berbagai makanan dan kue tradisional sebagai bentuk kebersamaan serta ungkapan rasa syukur dalam memperingati kelahiran Nabi Muhammad SAW.
Tradisi tersebut kemudian dilanjutkan dengan makan bajamba, yakni makan bersama yang menjadi salah satu bagian penting dalam budaya masyarakat Minangkabau. Berbagai jenis sambal dan lauk-pauk disiapkan secara bersama-sama oleh masyarakat untuk disajikan kepada para tamu undangan maupun warga yang hadir.
Aneka hidangan, terutama berbagai jenis ikan dan lauk-pauk lainnya, ditata sedemikian rupa sehingga menggugah selera. Selain hidangan yang disantap bersama, panitia juga menyiapkan nasi bungkus untuk dibagikan kepada undangan dan masyarakat yang hadir.
Menurut informasi dari Misradianto, Imam Nagari sekaligus bagian dari kepanitiaan dan pengurus Masjid Nurul Huda, tradisi Maulid Nabi dengan Badzikie dan makan bajamba tersebut telah dilaksanakan sejak lama dan terus dilestarikan setiap tahun berdasarkan kesepakatan serta kebersamaan masyarakat setempat.
Tradisi tersebut, kata dia, bukan hanya menjadi kegiatan keagamaan, tetapi juga menjadi sarana mempererat hubungan silaturahmi antarwarga serta menjaga warisan budaya dan nilai-nilai keagamaan yang telah diwariskan oleh para orang tua terdahulu.

Sementara itu, Erdinal, S.Sos., Dt. Marajo, penghulu suku sekaligus Mamak Kepala Adat Suku Koto di Malalak Selatan yang saat ini juga menjabat sebagai anggota DPRD Kabupaten Agam, turut memberikan perhatian terhadap pelestarian tradisi tersebut.
Ia menyampaikan bahwa tradisi Badzikie dan makan bajamba merupakan bagian dari kebiasaan masyarakat yang perlu terus dijaga keberlangsungannya, khususnya dalam momentum memperingati kelahiran Nabi Muhammad SAW.
Kegiatan keagamaan seperti ini juga menjadi ruang bagi masyarakat untuk terus menjaga nilai-nilai kebersamaan, gotong royong dan kecintaan terhadap Nabi Muhammad SAW. Terlebih, tradisi tersebut telah menjadi bagian dari kehidupan masyarakat setempat dan diikuti oleh warga yang menjalankan jamaah Syatariyah.
Peringatan Maulid Nabi Muhammad SAW di Masjid Nurul Huda tersebut turut dihadiri Camat Malalak Ulya Satar, S.STP., M.Si., bersama jajaran KUA Kecamatan Malalak. Hadir pula Ketua MUI Kecamatan Malalak beserta rombongan dan sejumlah undangan lainnya.
Turut hadir Wali Nagari Malalak Selatan Amir Koto, B.Sc., Dt. Marahindo, bersama perangkat nagari dan lembaga nagari. Para wali jorong se-Nagari Malalak Selatan juga ikut hadir dalam kegiatan tersebut.
Kehadiran unsur pemerintah kecamatan, KUA, MUI, pemerintahan nagari, tokoh adat, tokoh agama serta masyarakat menunjukkan bahwa tradisi keagamaan dan budaya lokal masih mendapat tempat penting dalam kehidupan masyarakat Malalak Selatan.
Melalui kegiatan tersebut, masyarakat tidak hanya memperingati kelahiran Nabi Muhammad SAW, tetapi juga berupaya menjaga warisan tradisi yang telah berlangsung dari generasi ke generasi.
Badzikie, doa bersama dan makan bajamba akhirnya menjadi satu rangkaian yang menyatukan nilai agama, adat dan kebersamaan masyarakat Malalak Selatan. Tradisi tersebut diharapkan terus dilestarikan sehingga dapat diwariskan kepada generasi muda sebagai bagian dari kekayaan budaya dan kehidupan keagamaan masyarakat setempat.
(Ak)

