Aceh Timur, CNN Indonesia.id-
Tradisi khanduri 15 Ramadhan yang telah lama menjadi bagian dari budaya masyarakat Aceh tetap dilaksanakan oleh warga Gampong Jalan, Kecamatan Nurussalam, Kabupaten Aceh Timur, pada Rabu (4/3/2026).
Namun pelaksanaan tradisi berbuka puasa bersama tersebut berlangsung dalam kondisi sederhana. Puluhan warga terlihat duduk di tanah dengan alas tikar seadanya saat menunggu waktu berbuka puasa bersama.
Kondisi ini terjadi karena meunasah Gampong Jalan yang menjadi pusat kegiatan ibadah dan sosial masyarakat terbakar pada tahun 2021 dan hingga kini belum dibangun kembali.
Saat ini masyarakat hanya memiliki sebuah balai kecil berukuran sekitar 5 x 6 meter yang digunakan untuk berbagai kegiatan desa. Bangunan tersebut tidak mampu menampung masyarakat ketika kegiatan besar seperti kenduri Ramadhan dilaksanakan.
Akibatnya, kegiatan berbuka puasa bersama dalam tradisi khanduri harus dilakukan di halaman sekitar balai dengan masyarakat duduk berjajar di atas tikar yang dibentangkan di tanah.
Tradisi khanduri 15 Ramadhan sendiri merupakan kebiasaan turun-temurun masyarakat Aceh sebagai bentuk syukur atas pertengahan bulan suci Ramadhan sekaligus mempererat kebersamaan warga gampong.
Dalam pelaksanaannya, setiap keluarga membawa makanan dari rumah masing-masing untuk dikumpulkan dan kemudian dinikmati bersama saat berbuka puasa.
Di Gampong Jalan, masyarakat biasanya membawa nasi dalam bungkusan dengan jumlah yang berbeda-beda, sesuai kemampuan keluarga. Ada warga yang membawa 10 bungkus nasi, sebagian 15 bungkus, bahkan ada yang 8 bungkus.
Seluruh bungkusan nasi tersebut kemudian dikumpulkan terlebih dahulu di lokasi kegiatan, lalu menjelang waktu berbuka dibagikan kembali secara acak kepada masyarakat yang hadir.
Imam Gampong Jalan, Samsul Bahri (TGK Imum), mengatakan bahwa masyarakat tetap mempertahankan tradisi khanduri Ramadhan meskipun fasilitas desa sangat terbatas sejak meunasah terbakar.
“Khanduri 15 Ramadhan ini sudah menjadi tradisi turun-temurun di Aceh. Walaupun kondisi kami terbatas sejak meunasah terbakar, masyarakat tetap berusaha menjaga kebersamaan melalui kegiatan ini,” ujar Samsul Bahri.
Ia menjelaskan bahwa selama ini masyarakat hanya mengandalkan balai kecil yang ada untuk kegiatan desa.
“Balai yang ada sekarang ukurannya sekitar lima kali enam meter. Kalau kegiatan seperti ini tentu tidak cukup menampung masyarakat, sehingga warga harus duduk di luar dengan tikar seadanya,” jelasnya.
Meski berada dalam kondisi serba terbatas, semangat kebersamaan masyarakat tetap terlihat kuat. Warga dari berbagai dusun datang membawa makanan dari rumah masing-masing, duduk bersama di atas tikar, dan menunggu waktu berbuka puasa dengan penuh kekeluargaan.
Di tengah meunasah yang telah lama terbakar, masyarakat tetap menjaga tradisi dan kebersamaan. Namun bagi warga Gampong Jalan, harapan agar meunasah kembali berdiri masih menjadi penantian yang belum terjawab hingga hari ini.
Rasyidin
















