Man Jadda Wa Jada : Bahasa inggris Bukan soal Bakat, Tapi soal Tekad

BUKITINGGI, CNN INDONESIA.ID – Oleh : Saniatul Husni, S.Pd, UIN Sjech M. Djamil Djambek Bukittinggi. , E-mail : saniatulhusni2@gmail.com
Man jadda wajada – siapa yang bersungguh-sungguh, ia akan berhasil. Slogan yang kian populer di kalangan pelajar, usai rilisnya sebuah film yang bertajuk Negeri 5 menara.

Bukan sekadar rangkaian kata motivasi semata, slogan ini mengandung keyakinan bahwa usaha memiliki peran penting dalam mengantarkan seseorang menuju keberhasilan. Namun, ketika slogan ini di bawa ke ruang pembelajaran bahasa inggris, timbul pertanyaan menarik : apakah kesungguhan saja sudah cukup untuk membuat seseorang mahir berbahasa asing.

Pertanyaan lain pun bermunculan, mengapa sebagian orang cepat menguasai bahasa inggris, sementara yang lain harus berjuang berkali-kali untuk sekadar menyusun satu kalimat? Jawabannya tidak sesederhana bakat.

Pertanyaan tersebut penting karena kemampuan berbahasa inggris sering kali di pandang sebagai sesuatu yang istimewa, seakan-akan hanya mereka yang berbakat sejak lahir yang memilikinya.

Sebagai seorang guru bahasa inggris di sekolah dasar negeri, saya kerap menemukan siswa yang dengan singkat mampu memahami kosa kata, mudah menirukan pelafalan, dan lancar berbicara dalam bahasa inggris.

Sebaliknya, terdapat siswa yang telah menghabiskan waktu bertahun-tahun dalam belajar bahasa inggris, tetapi masih ragu dalam mengucapkan sebuah kalimat sederhana.

Dalam hal ini bahasa inggris menjadi bahasa kedua yang mereka pelajari setelah bahasa ibu mereka yakni bahasa Indonesia. Perbedaan ini terkadang melahirkan kesimpulan yang bersifat terburu-buru : yang satu berbakat, sedangkan yang lain tidak.

Padahal, keberhasilan belajar bahasa kedua atau second language acquisition memiliki proses yang lebih kompleks. Sikap terhadap pembelajaran (attitude), bakat bahasa (aptitude),dan perbedaan individual (individual differences) saling berkesinambungan membentuk pengalaman belajar seseorang.

Maka disinilah semangat Man Jadda Wajada mencapai relevansinya : bukan sebagai janji bahwa semua orang akan mencapai hasil yang sama, melainkan menjadi pengingat bahwa kemampuan dapat terus dikembangkan melalui usaha yang tepat. Krashen (1981), membahas sikap (attitude), bakat (aptitude), dan perbedaan individu (individual differences) secara teliti dalam bukunya yang berjudul Second language acquisition and second language learning.

Sikap (attitude ) : Pintu Pertama Menuju Keberanian Berbahasa

Dalam mempelajari bahasa kedua (second language) apapun itu bahasanya, sikap menjadi penentu bagaimana seseorang menghadapi tantangan. Siswa yang memiliki sikap ke arah yang positif cenderung lebih berani mencoba, menerima bentuk koreksi, dan melihat kesalahan dari sisi baik, bahwa kesalahan merupakan bagian dari proses belajar.

Sedangkan siswa yang menganggap bahasa inggris sebagai pelajaran yang menakutkan dan memiliki beban dalam pikirannya mungkin akan memilih diam, bahkan ketika sebenarnya ia mengetahui jawaban dari pertanyaan yang disajikan.

Sikap (attitude) ini tidak terbentuk dalam ruang kosong. Beberapa hal yang mampu mengisi kekosongan tersebut ialah, pengalaman mereka dalam belajar, dukungan keluarga, lingkungan pergaulan, metode mengajar, serta respons guru terhadap kesalahan yang siswa lakukan mampu memengaruhi cara siswa memandang pelajaran bahasa inggris hingga bahasa inggris itu sendiri.

Ini menjadi tolak ukur saya sebagai guru yang berperan dalam memengaruhi cara pandang siswa terhadap pelajaran bahasa inggris. Terlebih lagi mengajar di jenjang tingkat Sekolah Dasar “SD Negeri 09 Gumarang” menjadi tantangan tersendiri dalam mengajar bahasa kedua, dalam hal ini sama konteksnya mengukir di kertas putih. Yang mana tindak tanduk yang dilakukan seorang guru akan berpengaruh jauh bagi siswanya hingga mereka dewasa.

Candaan polos teman teman seusia mereka menertawakan saat temannya salah dalam mengucapkan sebuah kata maka akan berdampak besar bahwa anak tersebut akan tumbuh menjadi pembelajar yang takut mencoba untuk berbicara.

Baca Juga:  Pj Bupati Langkat Faisal Hasrimy Raih Penghargaan "Sahabat Pers Award 2024"

Sementara itu, anak yang dengan berani tetap mencoba walau di tertawakan temannya dan mendapatkan apresiasi dari guru dan sebagian temannya yang lain dapat memupuk kepercayaan diri nya semakin kuat di waktu mendatang.

Sedikit apresiasi seperti “ Good, excellent, good job, bagus sekali, pengucapan kamu sudah bagus, besok di tingkatkan ya” mampu meningkatkan semangat mereka dalam belajar, inilah yang sering saya temui di tingkat sekolah dasar. Pada dasarnya seorang anak sudah menjadi naluri mereka untuk senang terhadap apresiasi yang mereka terima. Dengan satu dua kata pujian yang saya lontarkan, maka pertemuan berikutnya mereka akan lebih berani untuk mencoba.

Gardener (1985), dalam kajiannya mengenai sikap dan motivasi dalam pembelajaran bahasa kedua, menempatkan faktor sikap dan motivasi sebagai unsur penting dalam memahami keberhasilan belajar bahasa. Temuan ini memberikan pelajaran bahwa pembelajaran bahasa tidak terhenti hanya berisi penguasaan tata bahasa dan hafalan kosa kata. Namun ada aspek psikologis yang turut menjadi penentu apakah siswa bersedia terlibat dalam proses belajar.

Karena itu, guru yang berperan penting dalam penentu kesuksesan pembelajaran, tidak seharusnya hanya bertanya, “Mengapa kamu tidak bisa berbicara bahasa Inggris?” namun alangkah baiknya pertanyaan yang diajukan adalah pertanyaan yang lebih mendidik seperti “ Apa yang membuat kamu takut mencoba dalam pelajaran, dan bagaimana ibu atau bapak Guru dapat membantumu?”.

Dengan rangkulan kecil, mampu berdampak besar untuk mereka di kemudian hari.

Bakat (Aptitude) : Bakat Mempermudah, Tetapi Bukan Garis Akhir

Jika sikap berkaitan dengan cara seseorang memandang dan menghadapi pembelajaran, aptitude berkaitan dengan kapasitas atau kesiapan seseorang untuk mempelajari bahasa. Carroll (1981), dalam pembahasannya tentang bakat bahasa, menjelaskan bahwa kemampuan khusus tertentu dapat membantu seseorang mempelajari bahasa asing.

Mengakui keberadaan bakat tidak berarti menjadikannya vonis terhadap masa depan siswa. Bakat bukanlah jaminan keberhasilan, sebagaimana keterbatasan pada aspek tertentu bukan bukti bahwa seseorang tidak mungkin berkembang. Siswa yang cepat memahami tata bahasa, misalnya, belum tentu berani berbicara di depan kelas. Sebaliknya, siswa yang lambat menghafal kosakata mungkin memiliki keberanian berkomunikasi yang lebih baik dan terus berkembang melalui latihan.

Perbedaan Individu (Individual Differences) : Setiap Anak Memiliki Jalan Belajarnya Sendiri
Salah satu tantangan pembelajaran bahasa inggris adalah kecenderungan memperlakukan semua siswa dengan sama, paadahal setiap anak memiliki kemampuan, motivasi, kepribadian, pengalaman, dan strategi belajar yang berbeda. Perbedaan inilah yang disebut individual differences. Dörnyei (2005) menekankan pentingnya memahami faktor individual dalam pembelajaran bahasa kedua.

Sebagai contoh, siswa yang cepat menghafal dialog belum tentu percaya diri saat berbicara, sedangkan siswa yang membutuhkan waktu lebih lama mungkin mampu berkomunikasi secara alami. Hal ini menunjukkan bahwa keberhasilan belajar tidaj selalu seragam.

Ada siswa yang berkembang melalui percakapan, gambar, atau gerakan, sementara lainnya membutuhkan waktu lebih lama untuk memahami informasi. Oleh karena itu, perbedaan individu seharusnya dipahami sebagai dasar untuk mendukung perkembangan siswa, buka sebagai kelemahan.

Dengan demikian makna slogan man jadda wajada dalam ketiga aspek menemukan benang merahnya. Dalam sikap ( attitude ) berarti keberanian kembali mencoba setelah kesalahan. Kemudian bakat ( aptitude) memberikan pandangan bahwa kesungguhan berarti seseorang mampu bertumbuh bahkan ketika kemajuannya berbeda dengan orang lain.

Sedangkan dalam perbedaan individu (individual differences) lebih menekankan bahwa setiap anak harus terus melangkah sesuai titik awal, tantangan dan potensi yang dimiliki oleh masing masing mereka.

(Article)

Related Post

0 0 votes
Article Rating
Subscribe
Notify of
guest
0 Comments
Inline Feedbacks
View all comments