Kemampuan dan Sikap berbahasa – Keterkaitannya dalam Pemerolehan Bahasa Kedua

BUKITTINGGI, CNN INDONESIA.ID –
Oleh: Prinanda Tito Ramadhan, S.Pd
Mahasiswa Pascasarjana Universitas Islam Negeri Bukittinggi, Jurusan Tadris Bahasa Inggris Semester Pertama, Di era teknologi dan ilmu pengetahuan, penting bagi setiap individu mempelajari bahasa selain bahasa Indonesia. Hal ini disebabkan oleh zaman yang semakin maju dan berkembang serta tuntutan penguasaan teknologi yang semakin
mutakhir.

Oleh sebab itu, masyarakat Indonesia, terutama generasi muda, sebaiknya menguasai setidaknya dua bahasa, yang bisa saja Inggris, Jepang, Korea, Mandarin, Prancis, Jerman, dan sebagainya, tergantung kebutuhan dan minat individu maupun
kelompok tertentu.

Namun, masyarakat perlu mengetahui bahwa ada hal penting yang menjadi faktor penentu agar bahasa kedua dapat diperoleh dengan baik, yaitu kemampuan dan sikap berbahasa.

Menurut Krashen (1981), kedua faktor tersebut dinilai terlibat dalam pemerolehan bahas. Krashen juga menyebutkan bahwa memperoleh kemampuan berbahasa adalah sesuatu yang disengaja oleh individu yang bersangkutan, sedangkan
sikap berbahasa diperoleh dari pribadi masing-masing. Dengan kata lain, kemampuan
berbahasa didapatkan secara sadar oleh individu, sedangkan sikap secara berkala terbentuk dari sifat individu dalam proses pembelajaran. Untuk mengetahui lebih lanjut, penting bagi masyarakat Indonesia menggali beberapa fakta dari kedua faktor tersebut agar dapat menjadi pedoman pemerolehan dan pembelajaran bahasa kedua.

1. Kemampuan Berbahasa (Aptitude)
Kemampuan tidak semestinya sama dengan kepintaran, walaupun bagi segelitir orang, pengaruh dari keduanya dinilai sama. Terkait hal ini, Li (2016) menyatakan bahwa kepintaran yang dapat diukur dengan tes IQ (Intelligence Quotient) sejalan dengan kemampuan berbahasa seseorang.

Berkaitan dengan itu, pendapat masyarakat umum pun menyatakan bahwa kemampuan barbahasa bagi merupakan sesuatu yang disetarakankan dengan kemampuan yang lain. Caroll 1973) juga berpendapat bahwa kemampuan berbahasa lebih mempengaruhi seberapa mudah dan cepatnya seseorang mempelajari bahasa kedua daripada
tingkat kemampuan yang dicapai oleh individu setelah mempelajari bahasa tersebut.

Dengan kata lain, kemampuan berbahasa seseorang lebih dikaitkan dengan bakat alami atau faktor genetik daripada usaha individu untuk
mempelajarinya.

Seluruh macam kemampuan pada hakikatnya dapat diperoleh dan diasah. Setiap kemampuan bisa didapatkan menggunakan cara yang tepat dan dapat diukur serta dikalkulasikan.

Artinya setiap kemampuan dapat dinilai, termasuk
kemampuan berbahasa. Caroll pun menyatakan bahwa kemampuan berbahasa
dapat diukur menggunakan tes standar yang telah ditetapkan seperti MLAT (Modern Language Aptitude Test) dan LAB (Language Battery Test).

Caroll juga menyertakan 3 komponen utama dalam penilaian kemampuan berbahasa modern
tersebut, yaitu kemampuan pengkodingan fonetis, sensitifitas tata bahasa, dan kemampuan induktif.

Kemampuan pengkodingan fonetis adalah kemapuan menyimpan ‘suara’ bahasa baru dalam ingatan, sedangkan sensitifitas tata bahasa
merupakan kemampuan individu untuk menunjukkan kesadaran terhadap pola
kalimat dalam suatu bahasa, dan kemampuan induktif adalah kemampuan memeriksa pembentukan bahasa yang pada dasarnya merasakan dan menemukan keterkaitan dari arti dan tata bahasanya.

Selain itu, Li juga mengemukakan pernyataan bahwa kemampuan berbahasa lebih berfokus pada penguasaan daripada pembentukan bahasa. Hal ini
memperjelas pernyataan bahwa kemampuan berbahasa sangat penting dalam konteks pembelajaran di dalam kelas, di mana pembelajaran lebih dijelaskan dan secara sadar mempelajari tata bahasa serta dasar pembagiannya. Pernyataan
tersebut juga menjelaskan bahwa kemampuan berbahasa tidak terlalu mempengaruhi keberasilan seseorang dalam berkomunikasi di bahasa tersebut.

Meski begitu, satu hal yang membuat kemampuan berbahasa masih sangat penting adalah pembentukan pengetahuan tata bahasa. Pernyataan ini dididukung oleh Li (2015) yang menemukan bahwa dari 53 penelitian, kemampuan
berbahasa setidaknya berkaitan dengan pemerolehan tata bahasa, khususnya bagi
pelajar sekolah menengah, di mana tata bahasa benar-benar dijelaskan dalam
proses pembelajaran.

Baca Juga:  Sudewo: Partai Pengusung itu Bebas Mau Mengusung Siapa itu Hak Mereka, Jangan Nebar Fitnah

2. Sikap Berbahasa (Attitude)
Dalam pemerolehan bahasa kedua, sikap berbahasa diperlukan agar menjadi motivasi untuk mempelajari bahasa tersebut. Motivasi berbahasa bisa dikategorikan menjadi dua hal, yaitu motivasi integratif dan motivasi instrumental.

Motivasi integratif merupakan keinginan untuk menjadi anggota masyarakat yang menggunakan bahasa tersebut, sedangkan motivasi instrumental
merupakan keinginan untuk menguasai bahasa untuk digunakan, baik sebagai latihan atau dalam kehidupan sehari-hari. Kedua motivasi tersebut juga mempengaruhi individu yang ingin belajar bahasa kedua secara berbeda.

Jika motivasi integratif mempengaruhi keingintahuan terhadap bahasa yang dipelajari,
motivasi instrumental mempengaruhi keberanian untuk menggunakan bahasa dengan pengguna aslinya untuk tujuan tertentu.

Sikap berbahasa yang dimaksud bisa saja mempengaruhi pemasukan bahasa
(input), pendapatan bahasa (intake), atau mempengaruhi kemauan pelajar menggunakan bahasa yang sudah didengar.

Pernyataan ini berkaitan erat dengan
sifat-sifat individu yang ingin memeperoleh bahasa kedua. Diantaranya, Brown (1977) mengemukakan bahwa percaya diri dapat membuat seseorang merasa lebih bebas, tidak menahan diri, dan memiliki kekuatan ego untuk membuat
kesalahan yang diperlukan dalam pembelajaran bahasa tanpa melukai perasaannya.

Selain itu, Schumann (1975) menyatakan bahwa empati juga bisa mempengaruhi seseorang untuk menekan rasa takut dan membuat individu
merasa diterima serta bersikap positif dengan pembicara asli bahasa kedua.

Berikutnya, sikap positif terhadap kelas dan guru bahasa juga bisa mempengaruhi peserta didik agar lebih tenang dan meminta pendapat guru untuk mendapatkan pengertian yang menyeluruh terhadap tata bahasa serta secara langsung memilih guru sebagai salah satu sumber pendapatan bahasa kedua.

Selebihnya, peserta didik yang memiliki arah analisis yang tepat dapat bersikap lebih baik,
khususnya dalam kelas bahasa tingkat lanjut. Artinya, sikap yang positif terhadap bahasa kedua jelas dapat mempengaruhi seseorang untuk menerima bahasa tersebut dengan lebih baik.

3. Keterkaitan Kemampuan dan Sikap Berbahasa
Dalam pemerolehan bahasa kedua, penelitian yang dilakukan Krashen (1981) dan beberapa penelitian lain menunjukkan bahwa tidak ada keterkaitan langsung antara kemampuan dan sikap berbahasa.

Keduanya memiliki peran dalam mempengaruhi keberhasilan berbahasa secara terpisah. Dalam hal ini, terdapat beberapa kemungkinan bahwa seseorang bisa saja memiliki kemampuan
berbahasa yang baik tetapi sikap berbahasa yang kurang baik, kemampuan berbahasa yang kurang baik tetapi sikap berbahasa yang baik, kemampuan dan sikap berbahasa yang baik, atau kemampuan dan sikap berbahasa yang kurang baik.

Akan tetapi, walaupun memiliki peran yang berbeda, kemampuan dan sikap berbahasa berinteraksi aktif di dalam kelas bahasa. Hal ini ditunjukkan oleh temuan dari Mecer & Ryan (2010) yang menyatakan bahwa pengaruh keduanya
sangat menentukan hasil belajar bahasa.

Jika kemampuan berbahasa merefleksikan bakat individu untuk balajar bahasa kedua, sikap berbahasa membentuk individu untuk memotivasi, menerima, dan berusaha mempelajari
bahasa kedua.

Oleh karena itu, strategi pembelajaran yang tepat diperlukan untuk memaksimalkan potensipemerolehan bahasa kedua dengan mengintegrasikan pendekatan pedagogis yang tepat, menyediakan dukungan, dan menyarankan
peserta didik untuk berfikir serta bersikap dewasa dalam belajar bahasa.

Kesimpulannya, keterkaitan antara kemampuan dan sikap berbahasa itu ada, namun lebih signifikan di dalam kelas bahasa. Walupun kemampuanberbahasa lebih dapat menjadi pedoman penguasaan bahasa, sikap berbahasa berpengaruh terhadap motivasi penguasaan bahasa tersebut.

Jika di simpulkan dalam satu kata, jawaban dari keterkaitan kemampuan dan sikap berbahasa adalah ‘tergantung’. Hal ini disebabkan
pendapat yang berbeda tentang keberhasilan dan kepentingan berbahasa tergantung
konteksnya.

(Article)

Related Post

0 0 votes
Article Rating
Subscribe
Notify of
guest
0 Comments
Inline Feedbacks
View all comments