PADANG PARIAMAN, CNN Indonesia.id – Deru ekskavator Komatsu dan tuangan cor beton truk mixer mewarnai Nagari Sicincin, Kecamatan 2×11 Enam Lingkung beberapa hari terakhir. Proyek Rehabilitasi Jaringan Irigasi Daerah Irigasi Sicaung dengan nilai Rp950.574.000 kini digenjot pengerjaannya. Targetnya tegas: menjemput volume kerja agar banjir langganan yang selama ini merendam Jalan Raya Padang-Bukittinggi dan ruko warga bisa segera hilang dari peta bencana.
Pengerjaan yang dikebut ini bukan tanpa alasan. Sicincin sudah bertahun-tahun jadi langganan banjir tiap hujan deras turun. Air dari Batang Anai bercampur limpasan jalan raya, lalu meluap ke deretan ruko. Kerugian pedagang ditaksir ratusan juta setiap kali air masuk. Kini harapan warga bertumpu pada proyek sepanjang 120 hari kalender ini.
Ini adalah paket “Pengembangan dan Pengelolaan Sistem Irigasi Primer dan Skunder” khusus D.I Sicaung untuk cakupan lahan 1.000 Ha – 3.000 Ha. Fokus pekerjaan dua hal: membongkar saluran lama yang kondisinya jebol, dangkal, dan penuh lumpur. Kemudian membangun saluran baru dengan cor beton bertulang di bahu Jalan Raya Padang-Bukittinggi. Intinya satu: mengembalikan fungsi saluran agar air mengalir, bukan meluap.
Pemilik kegiatan adalah Dinas Sumber Daya Air & Bina Konstruksi Provinsi Sumatera Barat. Kontraktor pelaksana dipercayakan kepada CV. Trigatra Aritama Konstruksi Persada. Sementara pengawasan mutu dan administrasi dipegang CV. Arkaan Nusantara Consultant.
Saat dikonfirmasi awak media kepada pelaksana di lapangan menegaskan timnya sedang “mengejar bobot pengerjaan”. Artinya progres fisik digenjot agar sesuai kurva S dan target kontrak.
Titik proyek berada di Nagari Sicincin, tepatnya di sepanjang Jalan Raya Padang-Bukittinggi. Lokasi paling krusial ada di depan deretan ruko Sicincin yang selama ini jadi titik nol banjir. Pantauan lapangan Senin 22 Juni 2026 pukul 12.09 WIB menunjukkan aktivitas padat: ekskavator turun ke dasar saluran mengeruk endapan lumpur, sementara truk mixer antre menuang cor beton ke rangka besi tulangan saluran baru.
Kontrak proyek dimulai 30 April 2026 dengan masa pelaksanaan 120 hari kalender. Artinya target selesai jatuh di akhir Agustus 2026. Untuk mengejar target itu, volume kerja digenjot ekstra. Pantauan dan konfirmasi pelaksana menyebut pengerjaan ditambah porsinya agar bobot fisik bisa “dijemput” sesuai jadwal.
Jawabannya sederhana: karena Sicincin sudah terlalu lama menderita. Saluran irigasi lama tidak mampu menampung debit air dari Batang Anai. Ditambah sedimentasi dan kerusakan fisik, air jadi meluap ke jalan dan ruko. Akibatnya: jalan rusak, dagangan basah, aktivitas warga lumpuh.
Proyek Rp950 juta dari APBD Sumbar 2026 ini diharapkan jadi solusi permanen. Bukan tambal sulam. Tulisan di papan proyek mengingatkan: “Proyek ini terselenggara dari Pajak yang Anda Bayarkan”. Artinya ini uang rakyat, untuk rakyat.
Pengerjaan dilakukan bertahap. Tahap pertama, ekskavator Komatsu mengeruk dan membongkar total saluran lama yang sudah tidak layak. Lumpur dan material rusak diangkut keluar. Tahap kedua, tim tukang merangkai besi tulangan sesuai gambar teknik. Tahap akhir, truk mixer menuang cor beton ke bekisting. Hasilnya: saluran baru yang lebih dalam, lebih lebar, dan lebih kuat menahan tekanan air.
Metode “mengejar volume” dilakukan dengan menambah alat dan personil di lapangan. Tujuannya agar progres fisik tidak tertinggal dari jadwal. Namun warga berharap kecepatan tidak mengorbankan mutu.
Suara Warga: Harapannya Satu – Bebas Banjir “Udah puluhan tahun kami di sini langganan banjir bang. Tiap hujan deras, ruko pasti kemasukan air. Dagangan habis, lantai licin. Kalau proyek ini beneran tuntas dan airnya lancar, kami bersyukur,” ujar eka ibuk wali korong , pedagang Sicincin.(Jhrmn)
















