Pemerintah Daerah Deiyai Gunakan Pagar Tradisional “Me Eda” untuk Bangun Ekonomi Rakyat

- Redaksi

Jumat, 1 November 2024 - 10:52

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Deiyai, CNN Indonesia.id – Pemerintah Kabupaten Deiyai, Papua, memulai program baru yang memanfaatkan pagar tradisional “Me Eda” dari Suku Mee sebagai pagar perkantoran pemerintah. Inisiatif ini bertujuan untuk melestarikan budaya Suku Mee dan sekaligus mendukung ekonomi masyarakat lokal.(29/09/2024).

“Me Eda” adalah pagar kayu yang dibuat dengan bahan alami seperti kayu, rotan, dan tanaman pago, yang banyak terdapat di hutan-hutan Deiyai. Secara tradisional, pagar ini digunakan masyarakat sebagai penanda batas wilayah dan memiliki makna simbolis sebagai penanda sosial serta identitas budaya.

Membangkitkan Ekonomi Lokal melalui “Eda Wotataibage”

Penggunaan “Me Eda” tidak hanya sebagai pelestarian budaya, tetapi juga memberikan dampak ekonomi bagi masyarakat lokal. Program ini mengusung konsep “Eda Wotataibage”, yang berarti “pengembalian ekonomi rakyat”. Dengan penggunaan pagar tradisional ini, pemerintah berharap dapat memberikan pemasukan bagi masyarakat setempat melalui produksi dan distribusi pagar.

Bupati Deiyai menyatakan, “Dengan memanfaatkan pagar tradisional, dana yang dianggarkan untuk pembangunan pagar tidak akan masuk ke pihak pengusaha besar, tetapi langsung ke masyarakat. Kami ingin uang berputar di tingkat rakyat.”

Program ini melibatkan pengrajin lokal yang memiliki keahlian dalam membuat “Me Eda”, sehingga mereka bisa mendapatkan penghasilan tambahan. Program ini juga akan membuka peluang kerja baru, khususnya bagi mereka yang membutuhkan pekerjaan.

Manfaat Ekonomi dan Sosial

Baca Juga:  Warsito Bersama Istri Rela Mengorbankan Uang Pribadi Demi Meriahkan HUT RI ke-79

Menurut data Pemkab Deiyai, dalam 6 bulan pertama program ini akan membutuhkan 500 kubik pagar kayu dengan biaya sekitar Rp 2 miliar. Dengan demikian, dalam setahun anggaran yang digelontorkan untuk produksi pagar tradisional ini dapat mencapai hingga Rp 5 miliar, yang sepenuhnya akan berputar di ekonomi lokal.

Selain manfaat ekonomi, “Me Eda” juga memperkuat rasa bangga akan budaya lokal di kalangan masyarakat Deiyai. “Kami merasa dihargai, budaya kami dilihat dan diakui,” ujar seorang warga setempat yang ikut terlibat dalam pembuatan pagar.

Tantangan dan Upaya Pelestarian

Namun, ada beberapa tantangan dalam penerapan pagar tradisional ini, seperti persepsi masyarakat yang merasa bahwa elemen tradisional mungkin tidak sesuai dengan tampilan bangunan modern. Untuk mengatasi hal ini, pemerintah daerah bekerja sama dengan masyarakat untuk menambahkan beberapa elemen estetis pada pagar agar tetap terlihat modern dan sesuai dengan kebutuhan bangunan kantor.

Pemerintah juga memberikan pelatihan kepada para pengrajin lokal agar kualitas pagar sesuai dengan standar yang diharapkan. Selain itu, pengrajin didorong untuk memanfaatkan teknologi, seperti penggunaan mesin sensor, agar pengerjaan menjadi lebih cepat dan kualitas pagar meningkat.

Dengan adanya program ini, pemerintah Kabupaten Deiyai berharap dapat meningkatkan taraf hidup masyarakat melalui penciptaan lapangan kerja, pemberdayaan ekonomi lokal, dan pelestarian budaya Suku Mee yang semakin tergerus oleh modernisasi.

(Dn vp)

Berita Terkait

SPBU 15.229.022 Lingga Bayu Resmi Beroperasi Kembali, Hadirkan Pelayanan Energi dan Santunan Anak Yatim
Camat Lingga Bayu Bersama Forkopimcam dan Danramil 16/Batang Natal Gotong Royong Timbun Jalan Provinsi Berlubang di Simpang Gambir
Dirjen Imigrasi Lantik Kakanwil Imigrasi Jabar dan Kepala Kantor Imigrasi Jakbar, Komitmen Perbaikan Menyeluruh
Blok Masela: Ibarat Raksasa yang Dibangunkan, Apakah Rakyat Sudah Siap?
Pelepasan dan Perpisahan TK/PAUD Se-Nagari Malalak Selatan Berlangsung Meriah, Dukung Generasi Emas Masa Depan
Digenjot Kejar Target! Proyek Rp950 Juta Irigasi D.I Sicaung Sicincin Jadi Harapan Baru Warga Bebas Banjir Langganan
Progres 75%! Bendungan Irigasi Banda Pisang Korong Padang Lapai Ditarget Rampung Pekan Depan
Tinggal 20 Hari Lagi! Jembatan Gantung Sipisang-Sipinang 80% Rampung, Warga Korong Sipinang Sambut Harapan Baru
Berita ini 7 kali dibaca

Berita Terkait

Rabu, 24 Juni 2026 - 06:34

SPBU 15.229.022 Lingga Bayu Resmi Beroperasi Kembali, Hadirkan Pelayanan Energi dan Santunan Anak Yatim

Rabu, 24 Juni 2026 - 04:57

Camat Lingga Bayu Bersama Forkopimcam dan Danramil 16/Batang Natal Gotong Royong Timbun Jalan Provinsi Berlubang di Simpang Gambir

Selasa, 23 Juni 2026 - 12:12

Dirjen Imigrasi Lantik Kakanwil Imigrasi Jabar dan Kepala Kantor Imigrasi Jakbar, Komitmen Perbaikan Menyeluruh

Selasa, 23 Juni 2026 - 06:33

Blok Masela: Ibarat Raksasa yang Dibangunkan, Apakah Rakyat Sudah Siap?

Selasa, 23 Juni 2026 - 06:27

Pelepasan dan Perpisahan TK/PAUD Se-Nagari Malalak Selatan Berlangsung Meriah, Dukung Generasi Emas Masa Depan

Minggu, 21 Juni 2026 - 04:57

Progres 75%! Bendungan Irigasi Banda Pisang Korong Padang Lapai Ditarget Rampung Pekan Depan

Sabtu, 20 Juni 2026 - 12:08

Tinggal 20 Hari Lagi! Jembatan Gantung Sipisang-Sipinang 80% Rampung, Warga Korong Sipinang Sambut Harapan Baru

Kamis, 18 Juni 2026 - 03:56

Seminar Edukasi Publik, Perkuat Kesadaran Hukum dan Integritas Peradilan, Mahasiswa Hukum UPN Menjadi Generasi Hukum Berintegritas

Berita Terbaru