Musa Boma, Sang Penjaga Batas Adat, Berhasil Menuntaskan Misi Suci

- Redaksi

Minggu, 20 Oktober 2024 - 11:27

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Nabire, CNN Indonesia.id
Papua Tengah – Musa Boma, Ketua Tim Peduli Alam dan Manusia Kapiraya, seorang tokoh pemuda Papua Tengah yang dikenal gigih dalam memperjuangkan hak-hak masyarakat adat, telah berhasil menuntaskan misi sucinya: menandai batas adat antara suku Kamoro dan suku Mee.

Setelah melalui perjalanan panjang dan penuh tantangan, Musa Boma dan timnya akhirnya berhasil menancapkan senplat penanda batas adat di lima desa, termasuk di balai desa Akar, pada tanggal 19 Oktober 2024.

“Awal mulai kerja dan bergerak hingga pada selesai tanam senplat Tapal Batas Adat ini, saya menghadapi banyak masalah, banyak tantangan tapi semua itu saya menerima sebagai ujian kepada saya sehingga tak pernah mundur selangkahpun juga,” ujar Musa Boma dalam pesan elektronik kepada media ini pada tanggal 20 Oktober 2024.

Perjalanan Musa Boma dan timnya tidaklah mudah. Mereka harus berjibaku dengan medan yang sulit, cuaca yang tidak menentu, dan berbagai rintangan lainnya. Namun, tekad mereka untuk menjaga tanah adat tetap teguh.

“Demi untuk Membela tanah dan manusia tidak bisa kita hanya bicara-bicara tapi keterlibatan langsung dan bukti kerja kita yang paling utama,” tegas Musa Boma.

Musa Boma tak lupa mengucapkan terima kasih kepada semua pihak yang telah mendukung perjuangannya, baik berupa doa, moril, maupun materil, terutama kepada masyarakat adat Mapia.

“Saya tak lupa mengucapkan Terima kasih Kepada semua pihak yang telah membantu kami dalam dengan doa, moril dan materil terutama kepada semua masyarakat Adat Mapia,” ucapnya.

Ia juga memberikan apresiasi setinggi-tingginya kepada timnya yang telah berjuang tanpa lelah, bahkan dalam kondisi cuaca yang tidak mendukung.

“Dan juga saya secara pribadi memberikan apresiasi yang setinggi tingginya kepada Tim saya sekalipun perjalanan dari Atoupugi suaca tidak mendukung perjalanan di jalan 7 malam 8 hari tapi tapi bertahan hingga pada selesai itu,” ungkapnya.

Baca Juga:  Bekerja di Balik Megahnya Pembangunan Proyek Strategis Nasional, Menteri AHY: Terima Kasih kepada Penggawa Pengadaan Tanah

Musa Boma dan timnya menyadari bahwa perjuangan mereka tidak hanya untuk menjaga batas adat, tetapi juga untuk melindungi hutan adat Mapia yang terancam oleh hadirnya Provinsi Papua Tengah di Nabire.

“Kami membelah yang tidak bisa bela, memperjuangkan yang tidak diperjuangkan melihat yang tidak bisa dilihat ssngguhnya suara mereka didengar tapi tidak dengar kami hadir untuk mereka,” kata Musa Boma.

“Saya Sebagai ketua Tim Peduli Alam dan manusia Kapiraya Musa Boma mengingatkan kepada seluruh rakyat Mapia bahwa dengan hadirinya Papua Tengah di Nabire ini hutan adat Mapia Terancam sekali,” lanjutnya.

Musa Boma menegaskan bahwa tanah merupakan warisan sejuta harta karun yang Allah titipkan kepada manusia untuk dilindungi dan dikelola dengan baik.

“Karena tanah merupakan warisan sejuta harta karun yang Allah titip kepada kita untuk melindungi, mengelolah dari untuk kita dan kita hidup atas tanah kita sendiri,” tuturnya.

Senada dengan Musa Boma, Yohanes Degekoto, tokoh pemuda distrik Sukikai Selatan, menyatakan bahwa manusia tidak bisa hidup tanpa tanah.

“Di tempat yang sama tokoh pemuda distrik sukikai selatan Yohanes Degekoto menyatakan bahwa manusia tidak bisa hidup tanpa tanah,” ucap Yohanes.

“Tanah merupakan mama kita yang perlu kita lindungi dan selamatkan sehingga mari rakyat Mapia bersatu kita selamatkan tanah Adat kita,” ajaknya.

Perjuangan Musa Boma dan timnya merupakan bukti nyata bahwa masyarakat adat Papua Tengah tidak akan tinggal diam dalam menghadapi ancaman terhadap tanah dan hutan adat mereka. Mereka akan terus berjuang untuk melindungi warisan leluhur mereka, demi generasi mendatang,tutup Musa Boma

Dena

Berita Terkait

PT PN IV Kebun Timur Diduga Kuasai Lahan Warga Transmigrasi, Khaidir Nasution, SH., A.Ptnh, Pemerintah Harus Tegas
Tangkis Isu Miring Soal UP3, Luturmas Buka Fakta Putusan Pengadilan
Blokade Sawit di Desa Teupin Raya Julok Ditahan Sementara, Mediasi Disepakati Hingga 21 April
Wakil Bupati Tapanuli Utara Fasilitasi Dialog dengan Massa unjukrasa terkait pencairan dana supplier MBG
Sinergi Pemerintah Daerah dan Pusat Optimalkan SPAM IKK
Kunker Bupati Tapanuli Utara di Kecamatan Parmonangan, Perkuat Pelayanan dan Pemulihan Pascabencana di Wilayah Terpencil
Warga Aceh Timur Blokade Perkebunan Sawit, Negara Diuji di Lapangan
Idul Fitri1447 H Momentum Memperkuat Iman
Berita ini 11 kali dibaca

Berita Terkait

Kamis, 16 April 2026 - 12:41

PT PN IV Kebun Timur Diduga Kuasai Lahan Warga Transmigrasi, Khaidir Nasution, SH., A.Ptnh, Pemerintah Harus Tegas

Kamis, 16 April 2026 - 06:09

Tangkis Isu Miring Soal UP3, Luturmas Buka Fakta Putusan Pengadilan

Rabu, 15 April 2026 - 14:09

Blokade Sawit di Desa Teupin Raya Julok Ditahan Sementara, Mediasi Disepakati Hingga 21 April

Rabu, 15 April 2026 - 13:41

Wakil Bupati Tapanuli Utara Fasilitasi Dialog dengan Massa unjukrasa terkait pencairan dana supplier MBG

Rabu, 15 April 2026 - 03:46

Sinergi Pemerintah Daerah dan Pusat Optimalkan SPAM IKK

Selasa, 14 April 2026 - 07:29

Warga Aceh Timur Blokade Perkebunan Sawit, Negara Diuji di Lapangan

Senin, 13 April 2026 - 08:34

Idul Fitri1447 H Momentum Memperkuat Iman

Senin, 13 April 2026 - 07:22

Kami Sudah Minta Tolong”: Anak Meninggal, Keluarga Soroti Penanganan di Puskesmas Mesjid Raya Aceh Besar

Berita Terbaru