Bukik Batabuah, CNN Indonesia.id – Sudah lebih dari satu tahun berlalu sejak bencana galodo (banjir bandang) melanda wilayah Bukik Batabuah, Kabupaten Agam, Sumatera Barat. Namun hingga saat ini, Jembatan Bukik Batabuah yang rusak akibat terjangan material lumpur dan batu besar dari lereng Gunung Marapi, belum juga diperbaiki. Kondisi ini membuat akses masyarakat terganggu dan menimbulkan keresahan yang tak kunjung usai.
Jembatan yang menjadi penghubung utama antara Nagari Bukik Batabuah dengan daerah sekitarnya ini sangat vital, baik untuk kegiatan ekonomi, pendidikan, maupun pelayanan kesehatan. Pasca galodo, jembatan tersebut nyaris putus total, menyisakan kerangka besi
Berbagai keluhan telah disampaikan oleh warga kepada pemerintah daerah, baik secara langsung maupun melalui media sosial. Namun, belum ada langkah konkret yang terlihat di lapangan. Warga mengaku kecewa karena perhatian pemerintah terhadap infrastruktur pasca bencana terkesan lambat dan tidak merata. “Kami sudah capek menunggu janji. Setiap musyawarah, katanya akan segera diperbaiki, tapi hasilnya nol,” keluh Arman, salah seorang warga setempat.
Kondisi ini juga berdampak besar terhadap roda perekonomian masyarakat yang tentu juga sangat membahayakan keselamatan mereka.
Menurut informasi dari beberapa tokoh masyarakat, anggaran perbaikan sebenarnya telah diajukan dalam rapat APBD tahun lalu. Namun, belum jelas alasan tertundanya proses realisasi pembangunan jembatan tersebut. Hal ini memunculkan spekulasi di tengah masyarakat bahwa birokrasi yang rumit dan kurangnya prioritas menyebabkan proyek ini tak kunjung dikerjakan.
Warga berharap ada kejelasan dan tindakan cepat dari pemerintah, Masyarakat menilai bahwa infrastruktur yang rusak akibat galodo harusnya menjadi prioritas utama dalam pemulihan daerah terdampak.
Kini, lebih dari satu tahun sudah berlalu sejak bencana itu datang. Namun luka yang ditinggalkan belum sepenuhnya pulih. Jembatan Bukik Batabuah masih berdiri dalam kondisi mengenaskan, menjadi saksi bisu dari lambannya proses pemulihan. Masyarakat hanya bisa berharap, semoga suara mereka benar-benar didengar dan perubahan segera diwujudkan.
(*)
















