Toba, Sumut, CNN Indonesia.id – Desa Panamparan dan Pararungan terletak di Kecamatan Habinsaran, Kabupaten Toba, yang berada di kaki Suaka Margasatwa Dolok Surungan. Posisi geografis ini menjadikan Panamparan dan 5 desa lainnya sebagai desa pedalaman yang dikelilingi perbukitan, hutan lebat, mata air, serta aliran sungai alami. Lanskap alamnya masih asri, dengan udara sejuk dan panorama khas lereng gunung. Hasil seperti kopi, kemenyan, andaliman punya kealitas tinggi dari daerah sekitar.
Di wilayah ini juga terdapat air terjun alami Batu Bolon yang hingga kini masih terjaga dan berpotensi dikembangkan sebagai destinasi wisata alam berbasis ekowisata.
Kedekatan Panamparan dan 5 desa lain dengan Suaka Margasatwa Dolok Surungan menjadikannya wilayah penyangga kawasan konservasi yang penting. Kawasan ini merupakan habitat satwa liar seperti tapir, rusa, siamang, dan harimau Sumatera, sekaligus menyimpan nilai sejarah dan spiritual Batak kuno.
Keberadaan hutan yang masih relatif utuh memberi peluang pengembangan wisata alam berupa, panjat tebing, jelajah hutan, edukasi konservasi, serta wisata minat khusus bagi peneliti dan pecinta alam.
Selain potensi alam, Panamparan dan Pararungan dan desa lainnya di Dolok Surungan, memiliki kekuatan besar pada wisata budaya. Hingga kini, sebagian masyarakatnya masih menganut kepercayaan Batak kuno seperti Parmalim dan Parbaringan, yang hidup berdampingan dengan keyakinan modern.
Tradisi, ritus, dan nilai budaya Batak masih terpelihara, termasuk berbagai legenda lokal yang diwariskan secara lisan dan melekat pada hutan, gua, serta situs-situs tertentu di sekitar Dolok Surungan.
Keunikan lainnya adalah masih banyaknya rumah adat Batak yang berdiri utuh, menjadi penanda kuat identitas budaya desa. Pola permukiman, arsitektur rumah, serta tata kehidupan masyarakat mencerminkan hubungan harmonis antara manusia, alam, dan leluhur.
Namun demikian, Panamparan dan desa sekitar juga menghadapi tantangan serius: yakni akses jalan penghubung yang memprihatinkan. Apalagi sekitar Dolok Sitangkereng yang sering longsor. Maka mereka lebih suka ke Balige melalui Sibide, Sitorang bukan melalui Parsoburan. Bahkan secara jarak mereka lebih dekat ke ibukota Kec.Silaen. Disamping jalan lebih baik, juga jalan sudah mulus dari Sibide (Kec.Silaen ) ke Balige.
Tantangan lainnya, berupa ancaman perambahan hutan untuk kepentingan perkebunan. Oleh karena itu, pengembangan wisata alam dan budaya berbasis masyarakat dapat menjadi jalan strategis untuk menjaga kelestarian lingkungan sekaligus meningkatkan kesejahteraan warga, tanpa harus mengorbankan warisan alam dan budaya yang berharga. J/ Ndk
















