Aceh Timur, CNN Indonesia.id-
Puluhan koreografer dan pegiat budaya dari berbagai komunitas seni di Aceh Timur menggelar dialog kebudayaan bertema “Internalisasi Nilai-Nilai Islami pada Tari Persembahan Aceh (Ranup Lampuan)” di Aula Graha Bunda, Idi Rayeuk, Senin (27/10).
Kegiatan tersebut diselenggarakan oleh Sanggar Rampagoe Timu yang diketuai Muhaji Akbar, difasilitasi oleh Balai Pelestarian Kebudayaan Wilayah I Provinsi Aceh, serta didukung oleh Bidang Kebudayaan Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Aceh Timur melalui program Fasilitasi Pemajuan Kebudayaan (FPK) 2025.
Sebanyak 35 pelaku budaya dan koreografer hadir dalam kegiatan ini. Mereka memperoleh pembekalan dari M. Isa, S.Ag., M.Pd., Isra Fahriati, S.Pd., M.Sn., dan Zulfikar, S.Sn., dengan Riza Maulina, S.Sos. bertindak sebagai moderator.
Dalam pemaparannya, para narasumber menyoroti pentingnya pelestarian nilai-nilai syariat Islam dalam seni tari tradisional Aceh, terutama Ranup Lampuan yang selama ini dikenal sebagai tarian penyambutan tamu kehormatan.
Menurut Muhaji Akbar, kegiatan ini lahir dari keprihatinan terhadap pergeseran makna dan bentuk penyajian tari Ranup Lampuan di berbagai daerah.
> “Kami menemukan ada penari laki-laki yang membawakan gerak perempuan, busana yang tidak sesuai estetika Aceh, hingga gerak yang keluar dari pakem aslinya. Ini perlu diluruskan agar marwah budaya Aceh tidak hilang,” ujar Muhaji.
Ia menambahkan, hasil dialog para koreografer ini akan dijadikan bahan laporan dan rekomendasi kepada pemerintah daerah untuk mendorong lahirnya Qanun atau regulasi khusus mengenai tata laku dan etika penampilan tari Ranup Lampuan di Aceh.
Ranup Lampuan, sebagai simbol keramahan dan penghormatan masyarakat Aceh, diharapkan tidak hanya tampil indah secara artistik, tetapi juga menggambarkan identitas keislaman dan keanggunan perempuan Aceh yang sebenarnya.
Kegiatan ini juga menjadi momentum penting bagi para koreografer muda untuk memperkuat sinergi antara pelestarian budaya dan nilai-nilai syariah, sekaligus menegaskan bahwa seni tradisi Aceh dapat terus berkembang tanpa kehilangan ruh spiritualnya.
(Rasyidin)
















