Sitingkai, Sumatera Barat, CNN Indonesia.id – Tradisi “Manampuang”, sebuah warisan budaya yang kaya nilai sosial, kembali dilaksanakan dalam momen Hari Raya Idul Adha di Jorong Sitingkai. Tradisi ini merupakan cara masyarakat setempat dalam membagikan daging kurban secara adil dan merata kepada seluruh warga, tanpa memandang status sosial dan ekonomi.
Sejak pagi hari, suasana di Jorong Sitingkai terlihat ramai. Warga secara bergotong-royong memotong hewan kurban, menimbang, hingga membungkus daging untuk didistribusikan. Dalam proses ini, nilai-nilai gotong royong dan kebersamaan sangat terasa, mencerminkan semangat kolektif masyarakat Minangkabau.
Tradisi Manampuang sendiri tidak sekadar membagikan daging kurban. Di dalamnya terkandung makna nilai keadilan dan musyawarah. Setiap kepala keluarga mendapatkan bagian yang telah ditakar secara merata berdasarkan kesepakatan bersama. Tidak ada yang merasa lebih atau kurang, semua mendapatkan hak yang sama sebagai bagian dari komunitas yang saling menghargai.
Menurut tokoh adat setempat, Manampuang merupakan bentuk nyata dari prinsip “adat basandi syarak, syarak basandi Kitabullah”, yang artinya adat didasari oleh syariat Islam. Melalui tradisi ini, masyarakat tidak hanya melestarikan budaya leluhur, tetapi juga mengamalkan ajaran Islam dalam kehidupan bermasyarakat.
Lebih dari sekadar ritual tahunan, Manampuang menjadi simbol keadilan sosial yang menjunjung tinggi kebersamaan dan pemerataan. Nilai-nilai ini terus dijaga dan diajarkan kepada generasi muda, agar tetap menjadi bagian dari identitas budaya Jorong Sitingkai.
Dengan semangat Idul Adha, tradisi ini mempererat tali silaturahmi antarwarga dan memperkuat solidaritas sosial yang menjadi pondasi kokoh kehidupan bermasyarakat.
Meski zaman terus berkembang, masyarakat Jorong Sitingkai tetap menjaga keaslian proses Manampuang tanpa tersentuh modernisasi berlebihan. Alat-alat tradisional seperti timbangan gantung masih digunakan untuk menakar daging secara manual. Hal ini bukan tanpa alasan — bagi masyarakat setempat, menjaga cara-cara lama adalah bagian dari menghormati nilai-nilai leluhur yang telah mengajarkan pentingnya ketelitian dan kejujuran.
Anak-anak dan remaja pun turut dilibatkan dalam kegiatan ini. Mereka diajarkan cara menghormati adat, bekerja sama, serta pentingnya berbagi kepada sesama. Ini menjadi momen edukatif yang tidak hanya mempererat hubungan antar-generasi, tetapi juga menanamkan rasa tanggung jawab sosial sejak dini. Dengan begitu, nilai-nilai luhur Manampuang tetap hidup dan berkembang bersama waktu.
(Zul)
















