Pasaman, CNN Indonesia.id – Akibat jembatan penghubung Ke desa Batang Kundur putus, Ahad pun rela menyeberangi arus sungai yang deras, demi menjalankan tugas melangsungkan prosesi akad nikah sepasang calon pengantin (catin) di desa atau kejorongan yang terletak di belahan Kecamatan Dua Koto Kabupaten Pasaman Provinsi Sumatera Barat itu.
Lewat wawancara Senin (4/8), Ahad menceritakan pengalaman nan berkesan itu kepada Humas Kantor Kementerian Agama Kabupaten Pasaman.
Pada hari Sabtu (2/8), dirinya diamanahkan oleh Kepala KUA Kecamatan Dua Koto Fajri Watan, untuk melaksanakan prosesi ijab kabul sepasang catin bernama Agep Purwandi dan Intan Purnama Sari di Jorong Batang Kundur.
Kata Ahad, desa tersebut terletak jauh dari pusat ibukota kecamatan, lebih kurang 27 KM. Untuk menuju ke sana, ia harus pula mengendarai ojek dengan medan yang menantang adrenalin curam dan licin.
Tidak cukup sampai disitu, si Penghulu Muda ini harus menyeberangi sungai. Akan tetapi karena waktu itu hujan deras melanda sehingga mengakibatkan jembatan yang biasa digunakan warga sebagai akses penghubung putus diterjang air sungai, ia pun rela berbasah-basah berenang menyeberangi sungai yang cukup lumayan jaraknya, dibantu oleh warga setempat.

“Karena catin sudah menunggu, dan ini adalah tugas negara sebagai amanah saya, saya harus tempuh medan yang lumayan rawan ini. Alhamdulillah saya sudah persiapkan sebelumnya seperti baju pengganti, karena sudah mendapatkan informasi dari warga setempat jembatan tidak bisa dilewati”, terang Ahad.
Sesampainya ia di seberang sungai ia melanjutkan perjalanan kembali dengan mengendarai ojek yang sudah menanti dan dipersiapkan oleh warga. Dan sesampainya di Batang Kundur, disambut suka cita oleh Sumarno yang merupakan pucuk adat desa. Dan langsung mendampingi Ahad menuju kediaman si punya hajatan.
Prosesi akad nikah alhamdulillah berjalan lancar kata Ahad melanjutkan cerita. Dan selesai sekitar pukul 11. 30 WIB. Rencananya ia akan pulang, namun menurut keterangan warga dikarenakan cuaca hujan dan arus sungai yang deras, sehingga dikhawatirkan mengancam jiwa, Ahad diminta bermalam di desa tersebut.
“Ini sungguh pengalaman yang berkesan bagi saya. Ini semua saya lakukan dengan tulus dan amanah sebagai abdi negara untuk melayani umat. Berkait-rakit dahulu berenang ketepian, bersakit-sakit dahulu baru senang kemudian”, ucapnya seraya berdoa. (M. Yusuf Ainur Sabri/Syafrial)
















