Aceh Timur, CNN Indonesia.id-
Polemik penyaluran bantuan daging meugang senilai Rp7,5 miliar di Kabupaten Aceh Timur mulai mengemuka. Sejumlah warga di Desa Seuneumbok Benteng, Kecamatan Banda Alam, mempertanyakan transparansi skema distribusi serta kesesuaian antara besaran anggaran dan bantuan yang diterima di tingkat desa.
Berdasarkan informasi yang dihimpun, desa dengan sekitar 280 kepala keluarga (KK) tersebut disebut hanya menerima satu ekor anak lembu dengan estimasi nilai sekitar Rp8 juta. Jika angka tersebut menjadi pola distribusi rata-rata per desa, muncul pertanyaan publik mengenai bagaimana total anggaran Rp7,5 miliar itu direalisasikan dan didistribusikan.
Sejumlah warga menyatakan tidak mempersoalkan bantuan yang diberikan, namun meminta kejelasan terkait rincian perencanaan anggaran, jumlah keseluruhan hewan yang disalurkan, serta dasar perhitungan pembagian antar desa.
“Kalau memang anggarannya miliaran rupiah, tentu harus ada rincian terbuka. Supaya masyarakat tidak berspekulasi,” ujar salah satu warga.
Informasi lain yang berkembang menyebutkan adanya desa di kecamatan yang sama yang harus berbagi satu ekor lembu untuk dua desa. Hal ini semakin memperkuat dorongan agar pemerintah daerah membuka data distribusi secara detail, termasuk jumlah desa penerima, nilai pengadaan per ekor, serta mekanisme penentuan kuota.
Secara umum, program bantuan sosial yang bersumber dari anggaran publik wajib memenuhi prinsip transparansi, akuntabilitas, dan pemerataan. Tanpa keterbukaan data, potensi kesalahpahaman hingga dugaan ketidaksesuaian anggaran dapat berkembang di tengah masyarakat.
Hingga berita ini diterbitkan, pihak terkait di Kabupaten Aceh Timur belum memberikan keterangan resmi terkait rincian penggunaan anggaran Rp7,5 miliar tersebut. CNN Indonesia.id- akan terus berupaya mengonfirmasi instansi teknis yang bertanggung jawab atas pengadaan dan distribusi bantuan meugang ini.
(Rasyidin)















