Madina (Sumut) CNN Indonesia.Id –
By. M.Amin Nasution
Dalam rangka pelaksanaan pilkada 2024 di Madina ikon itu menggema dan terasa membawa suatu kedamaian, jauh dari kesan tegang, resah dan rusuh.
Riang gembira itu masih mengandung multi tafsir, bisa jadi timbul tafsir bahwa dalam waktu dekat akan ada pemimpin yg baru, atau timbulnya rasa riang gembira karena punya kesempatan ikut berpartisipasi aktif dlm pelaksanaannya ataupun dengan adanya pilkada maka peredaran uang semakin signifikan sehingga bisa berharap akan kebagian.
Tafsir seperti itu sah sah saja tergantung dari penikmat pilkada itu sendiri.
Tapi secara hakekat mestinya RIANG GEMBIRA itu tidak lari dari hakekat pilkada dimana ada harapan perbaikan sosial ekonomi budaya dan rohani ke depan.
Aktualisasi riang gembira itu sendiri bisa dirasakan apabila tidak dilandasi dengan pragmatisme seperti kenikmatan – kenikmatan sesaat, tapi riang gembira itu mesti terukir dalam ruang yang terukur dan terencana secara sistematis baik dari sisi waktu, tempat maupun keadaan, misal nya para paslon harus digiring untuk bisa mempresentasikan kebijakannya secara terukur, contoh misalnya di Banjar Melayu melayu jalan akan diaspal pada tahun pertama saya menjabat, dan apabila tidak terealisasi silahkan datang ke kantor Bupati untuk menuntut saya mundur, demikian juga dengan daerah-daerah lain yang mesti sudah teridentifikasi oleh para paslon, sehingga metode terukur secara waktu dan ruang betul betul terealisasi, tidak hanya sebatas janji – janji kosong yang tidak jauh dari kata jika, maka, akan dan seterusnya.
Apabila keterukuran ini bisa disajikan oleh para paslon maka hakekat POLITIK RIANG GEMBIRA itu bisa ternikmati karena tidak sekedar jargon – jargon kosong bagai bualan di warung kopi/lopo.
(M.SN)
















