Padang Pariaman, CNN Indonesia.id— . Ibu-ibu dan bapak-bapak bermotor, bahkan harus dibantu warga lain mendorong rakit di derasnya Sungai Batang Anai. Ini bukan wisata arung jeram. Ini potret harian 30.000 warga Nagari Anduriang, Kayu Tanam, sejak jembatan mereka hanyut.
Semenjak Jembatan Anduriang putus total akibat banjir bandang November 2025, akses utama tiga nagari — Kayu Tanam, Anduriang, dan Guguak — lumpuh. Warga terpaksa membuat rakit dari drum dan papan kayu untuk seberang Sungai Batang Anai. Sampai hari ini, Kamis 30 April 2026, Jembatan Bailey yang direncanakan belum juga dibangun.
30.000 warga Nagari Anduriang, Kayu Tanam, dan Guguak, Kecamatan 2×11 Kayu Tanam, Kabupaten Padang Pariaman. Yang Paling Rentan Anak sekolah SD-SMA yang bisa jadi basah kuyup tiap pagi, ibu-ibu pedagang pasar yang dagangannya sering tumpah, orang sakit dan ibu hamil yang harus ditandu di atas rakit.
Pemerintah Kabupaten Padang Pariaman dan Pemerintah Provinsi Sumatera Barat*.
Penderitaan ini berlangsung setiap hari sejak November 2025 di Sungai Batang Anai, Nagari Anduriang, Kecamatan 2×11 Kayu Tanam, Kabupaten Padang Pariaman warga pada 30 April 2026 menunjukkan kondisi tidak berubah selama 6 bulan.
Pemkab & Pemprov harus segera bertindak? Alasan Kemanusiaan: Nyawa Jadi Taruhan Tiap Hari Rakit drum itu tidak ada pengaman. Jika hujan hulu, arus Batang Anai bisa menyapu siapa saja. “Sampai kapan tar dia sakit? Kasihan kita,” begitu jerit Bunda Endarmy DPRD Sumbar di Paripurna.Ekonomi Rakyat Mati Suri Hasil tani tidak bisa dibawa ke Pasar Kayu Tanam. Biaya angkut naik 3x lipat. Pedagang rugi, petani menjerit. 30.000 warga terisolasi.
Pendidikan Terancam Anak-anak harus lepas sepatu, gulung celana, dorong motor di sungai sebelum sekolah. Banyak yang absen saat Batang Anai meluap.
Rencana Bailey 60 Meter Sudah Ada Jembatan Bailey sepanjang 60 meter, lebar 4 meter, dengan pondasi ditinggikan 2-3 meter sudah direncanakan. Estimasi pengerjaan cuma 3 minggu. Yang ditunggu hanya eksekusi dari pemerintah.
seharusnya Pemda bertindak?Pemkab Padang Pariaman: Jangan lepas tangan. Segera alokasikan APBD darurat untuk pondasi dan jalan akses. Koordinasi harian dengan provinsi dan kepolisian.
Pemprov Sumbar: Gubernur Sumbar harus jadikan ini prioritas. Panggil semua pihak: PUPR, BPBD, Polda. Umumkan ke publik kapan tiang pancang pertama Bailey Anduriang ditanam.Jangan Tunggu Korban Jiwa: Kalau ada ibu atau anak hanyut di Batang Anai, penyesalan tidak ada guna.
Sampai kapan 30.000 warga Anduriang Kayu Tanam harus jadi “pemain sirkus” di sungai sendiri? Sampai kapan Pemda Kabupaten dan Provinsi membiarkan ibu-ibu mendorong motor di arus deras?surat terbuka dari rakyat. Bukan untuk dikasihani, tapi untuk dibangunkan jembatannya. Sekarang. untuk Bupati Padang Pariaman dan Gubernur Sumbar. 30.000 nyawa menunggu tindakan nyata.(Jhrm)
















