Saumlaki (Maluku) CNN Indonesia.id –
Kasus meninggalnya bocah 11 tahun atas nama Yohana Ambalani, asal desa Awear, Kecamatan Yaru, Kabupaten Kepulauan Tanimbar (KKT) akibat konsumsi nasi bungkus pemberian Kakeknya yang diperoleh dari kampanye dialogis Pasangan Calon Bupati dan Wakil Bupati Kepulauan Tanimbar Nomor Urut 3 yang diusung Partai Gerindra, PKS dan PSI ini kian membuka tabir dan fakta-fakta baru.
Informasi yang himpun media ini, mulai dari keterangan para korban pengkomsumsi nasi bungkus maut ini, kemudian kepala desa Awear hingga dokter yang menangani korban meninggal maupun kepala dinas kesehatan dan Pemda sendiri, terjadi banyak kejanggalan.
Berikut ini sajian penjelasan versi dokter Feby Rutmam, bahwa di hari Kamis 10 Oktober 2024, bocah 10 tahun atas nama Yohana Ambalani masuk ke puskemas dengan riwayat muntah berak dan dehidrasi tingkat sedang.
“Kami lakukan penanganan dan membaik. Hari ketiga, disore hari memang rencana untuk dipulangkan, tapi jam 5 sore lewat, pasien tiba-tiba demam tinggi dan sekitar 30 menit berikutnya, pasien alami kejang demam,” ungkap dokter umum ini.
Menurut Feby, diare pasien telah teratasi oleh pihaknya. Dan ketika akan dipulangkan, tiba-tiba kondisi pasien panas tinggi dan kejang demam. Alhasil, pihaknya menangani dengan memberikan obat anti kejang dan pasien ada perubahan.
Namun kondisi bocah 10 tahun ini, semakin memburuk dimenit ke 30 yakni alami gagal pernapasan. Dengan kondisi demikian, pihaknya melakukan bantuan pernapasan selama 1 jam terhadap korban. Akan tetapi usaha tersebut tidak membuahkan hasil. Dimana Yohana Ambalani dinyatakan meninggal pukul 21.55 WIT.
Dihari yang sama saat pasien Yohana Ambalani masuk, telah ada beberapa pasien lainnya berkisar 10 orang yang masuk rawat inap dengan dehidrasi ringan. Dan dari semua pasien yang dirawat itu, saat diwanwancara baik menyangkut riwayat makanan, juga tentang kondisi lingkungannya bagaimana.
” Dari sekian pasien yang dilarikan ke RS mengaku kalau mereka konsumsi nasi bungkus yang dibagikan tim pemenangan paslon nomor urut 3 yakni Riky Jauwerissa – Juliana Ratuanak. Jadi pastinya penyebab adalah nasi bungkus,” ujarnya.
Untuk memastikan apakah penyebab utama adalah nasi bungkus, menurut Feby haruslah diambil sampelnya untuk diperiksa. Akan tetapi hal itu sudah tidak memungkinkan lagi, karena tak ada sampel nasi bungkus.
“Jadi diagnosis medis itu para pasien dari Desa Awear ini yang masuk rawat inap maupun rawat jalan itu adalah diare akut, ringan dan sedang. Yang berat dan sedang kita rawat, sedangkan ringan kita ijinkan pulang disertai pesan apabila alami muntah dan BAB bisa kembali ke puskemas,” katanya.
Dari data yang disampaikan dokter Feby bahwa untuk Desa Awear belum ada peningkatan status untuk wabah diare. Padahal desa-desa tetangga telah terjadi peningkatan status dibulam Juli – Agustus. Dan dari Agustus – September hanya terdapat satu dua kasus saja..
“Nah Awear ini baru peningkatan status saat ini untuk diare,” tandasnya.
Disingung tentang kematian bocah SD ini, dengan lugas dokter Feby katakan kalau Yohana Ambalani meninggal lantaran disebabkan kejang dan demam, tandasnya
Berdasarkan jawaban dokter Feby, maka dapat disimpulkan bahwa keterangan itu tidak sesuai dengan pengeluhan pasien yang dengan lugas mengakui bahwa terjadinya diare berawal dari konsumsi “Nasi Bungkus” yang dibagi tim pemenangan calon nomor urut 3 dengan jargon berSATU.
(AM).
















