Medan, Sumut, CNN Indonesia.Id
Oleh H. Syahrir Nasution Gelar Sutan Kumala Bulan
Di tengah sorotan publik tentang gaya kepemimpinan kepala Daerah, dua nama kembali mengemuka di panggung perdebatan regional Minggu ini , Muzakir Manaf ( Muallem) dan Bobby Nasution. Keduanya memiliki latar belakang dan pendekatan kepemimpinan yang kontras.
Muallem,sisok yang diterpa dari medan perjuangan dan konsisten berakar dari akar rumput Aceh, berhadapan dengan Bobby pigur mudah yang tampil modern dan selalu populis sering kali didorong oleh nama besar keluarga dan pencitraan .
Perbedaan mendasar antara kedua nya terletak pada pengalaman dan kedalaman medan sosial politik tempat mereka berkiprah. Muallem adalah hasil dari proses panjang sejarah Aceh. Ia bukan hanya mantan Panglima GAM, tetapi juga tokoh yang paham denyut nadi rakyat dan seluk – beluk birokrasi pemerintah paska damai.
Kepemimpinan Muallem teruji dalam berbagai transisi dari masa konflik, perdamaian , hingga konsolidasi politik lokal.Sementara itu Bobby Nasution menantu Presiden Jokowi muncul dengan kecepatan yang mencolok. Dari dunia usaha ke jabatan wali kota, dan kini menjabat Gubernur Sumut, lonjakan jabatan Bobby memang spektakuler. Namun, cepat tidak selalu berarti siap. Beberapa kebijakan Bobby belakangan seperti rencana penetapan sekolah lima hari dinilai lebih sebagai langkah populis ketimbang hasil perenungan mendalam terhadap sektor dunia pendidikan. Bahkan, langkah kebijakan yang menyentuh pariwisata dan waktu keluarga justru mengundang gelak tawa dan kritik tajam dari tokoh – tokoh publik seperti mantan Ketua Ombudman Sumut Abyadi siregar.
Perbedaan ini menegaskan berapa pentingnya pengalaman sebagai unsur utama dalam kepemimpinan yang bijak dan berkelanjutan. Muallem boleh jadi tidak memiliki gaya komunikasi “milenial” tetapi ia memiliki akar sosial yang kuat, serta jaringan dan pemahaman struktural yang terbentuk dari proses panjang.
Sedangkan Bobby meskipun membawa energi muda dan koneksi kekuasaan, kerap kali tergelincir dalam kebijakan – kebijakan simbolik yang tidak menjawab pesoalan mendasar rakyat.
Disini lah publik perlu lebih kritis, kita tidak sedang memiliki pemimpin dari citra dan iklan, melainkan dari rekam jejak dan dampak kebijakan. Pemimpin bukan semata ia tampil di media sosial, tetapi bagaimana ia menjawab keresahan rakyat, dan keputusan yang berpihak, tepat , dan berdampak nyata.
Aceh dan Sumut tidak butuh manejer media , Daerah ini butuh pemimpin yang matang, paham lapangan, dan tidak belajar sambil menjabat.
Managing derector PECI Indonesia ( POLITICAL ECONOMIC CONSULTING INSTITUTE) Indonesia.
(M.SN)
















