Saumlaki (Maluku) CNN Indonesia.id –
Politisi senior, mantan Bupati Kepulauan Tanimbar 2 Periode yang digelar sebagai bapak pembangunan Bumi Duan Lolat, Bitzael Silvester Temmar atau yang kerab disapa ‘Bitto’, mengemukakan pendapatnya tentang krisis kepemimpinan dan krisis keteladanan yang menjadi akar dari semua persoalan yang terjadi di Kabupaten Kepulauan Tanimbar (KKT) saat ini, mulai dari kabupaten, kecamatan hingga desa yang sangat sulit dijumpai pemimpin dengan keteladanan tertentu sebagai role model atau di yang bisa dijadikan panutan.
Dikatakan, krisis Kepemimpinan dan keteladanan yang melanda Tanimbar saat ini, merupakan factor kurangnya kredibilitas dari para pemimpin dan Pengakuan (recognation) sebagai gambaran kepercayaan atau keyakinan rakyat terhadap teladan tersebut, akibatnya pemerintah tidak sanggup lagi menahkodai masyarakat yang kondisinya semakin sulit.
Kepada media ini Temar katkaan, para pejabat publik di Tanimbar mulai dari era mantan Bupati Petrus Fatlolon hingga terakhir pejabat Bupati Piterson Rangkoratat, nyaris tidak punya rasa malu menyaksikan segudang problem yang telanjang di hadapan kesadaran namun tak terusik sedikitpun dalam diri mereka.
Lihat saja, Gedung DPRD, Gedung Perkantoran, dan fasilitas publik lainya menjadi rusak parah dan terbengkalai sampai saat ini tak mampu direhab, hingga agenda pemerintahan yang begitu penting ialah pelantikan DPRD, harus diselenggarakan di Gedung Natar Kaumpu milik swasta. Hal ini menandakan hilangnya kewibawaan pemerintah dan tak punya rasa malu.
“Saya dengar informasi, di Gedung Kesenian itu kabel pun nyaris tak ada sudah diambil tidak ada apa-apa lagi. Kemudian di kantor bupati itu lantai 4, bahkan ruang Sekda itu katanya sudah rusak berat padahal pekerjaan sejak mantan bupati Fatlolon sampai hari ini hanya melakukan pemeliharaan belaka sebagai modus untuk melakukan praktik kotor korupsi, kritiknya.
Ditegaskan, bukan saja di kabupaten tetapi ketika di telusuri lebih dalam, situasi pemerintahan di setiap kecamatan sampai pada tingkat pedesaan juga morat-marit dan lebih buruk lagi. Belum ada Kepala Desa saat ini yang bisa dianggap sebagai rule model atau model terbaik di Tanimbar. Untuk itu, dapat dikatakan bahwa ketiadaan rasa malu terhadap situasi pemerintahan telah melahirkan begitu banyak implikasi terhadap pelayanan publik serta keadaan masyarakat itu sendiri.
“Oleh karena itu, kalau keadaan ini tidak segera dibenahi melalui pemilihan kepala daerah yang bersih dan jujur saya kira keadaan ini akan terus berlangsung dan situasi buruk ini tidak akan pernah dapat diakhiri bahkan terkesan rusaknya Moral Pemimpin karena ulah Money Politik, ujar Maestro Tanimbar ini.
Untuk itu Bitto mengharapkan, dalam upaya mencari pemimpin yang mampu memberikan teladan, maka hindari konspirasi dan persekongkolan yang bisa mengarah pada dinasti kekuasaan. Siapa yang kuat maka dialah yang menang, yang pada akhirya akan membuat masyarakat terpasung dengan kesengsaraan.
Lanjutnya, seorang pemimpin ideal harus mendapat dukungan secara alami dari rakyat yang dipimpinnya, bukan karena faktor keterpaksaan. Jika dukungan yang diberikan masih ditentukan dan dipengaruhi oleh berbagai macam pijakan subyektif yang sulit dipertanggungjawabkan secara moral dan etis, maka suatu saat akan timbul bencana besar yang akan menimpa jalannya pemerintahan seperti yang dialami Tanimbar saat ini.
Menurutnya, ada Aparat Sipil Negara (ASN) juga yang kemudian dikerahkan untuk memenangkan kerabat atau keluarga dari para penguasa di Tanimbar, sebetulnya berdampak buruk hingga mengakibatkan sulitnya mencari pemimpin ketua DPRD mencari wakil ketua DPRD, dkarenakan mereka yang terpilih bukan terpilih karena dukungan murni masyarakat atau bukan karena respon masyarakat terhadap kapasitas dan tawaran program mereka tetapi oleh karena ada faktor politik uang dengan membeli suara rakyat.
(AM).
















